
Di era globalisasi ini, kemampuan berbahasa Inggris bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan dasar. Banyak orang tua di Jakarta menyadari hal ini dan ingin menyekolahkan anaknya di sekolah yang menawarkan lingkungan bilingual. Namun, sering muncul kekhawatiran: “Apakah mengenalkan bahasa kedua sejak usia toddler atau kindergarten tidak akan membuat anak bingung? Apakah tidak lebih baik menunggu mereka lancar bahasa ibu dulu?”
Di Charis Academy, kami menerapkan pendekatan bilingual yang imersif sejak dini karena kami memahami sains di baliknya. Alih-alih menyebabkan kebingungan, penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa ada manfaat belajar dua bahasa sejak dini yang luar biasa, tidak hanya untuk komunikasi, tetapi juga untuk perkembangan struktur otak anak.
Artikel ini akan membahas mengapa “semakin cepat, semakin baik” dalam hal pembelajaran bahasa, dan keuntungan kognitif apa yang didapat anak-anak bilingual.
Manfaat Belajar Dua Bahasa Sejak Dini; Mitos Kebingungan Bahasa (Language Confusion)
Kekhawatiran terbesar orang tua adalah anak akan mengalami keterlambatan bicara (speech delay) atau mencampuradukkan bahasa (code-mixing) secara permanen.
Faktanya, otak anak usia dini (0-6 tahun) sangat plastis dan dirancang seperti spons untuk menyerap bahasa. Mencampur kata (misalnya: “Mami, aku mau drink“) adalah fase normal dalam proses belajar, bukan tanda kebingungan permanen. Seiring waktu, anak-anak bilingual secara alami belajar memisahkan kedua sistem bahasa tersebut dan tahu kapan harus menggunakan bahasa Indonesia dan kapan menggunakan bahasa Inggris, tergantung lawan bicaranya.
Manfaat Belajar Dua Bahasa Sejak Dini; Keuntungan Kognitif Anak Bilingual
Manfaat belajar dua bahasa sejak dini melampaui kemampuan memesan makanan di luar negeri nanti. Ini melatih otak anak dengan cara yang unik:
1. Fungsi Eksekutif Otak yang Lebih Kuat
Anak bilingual terus-menerus melakukan “senam otak”. Mereka harus mengaktifkan satu bahasa dan menekan bahasa lainnya tergantung situasi. Proses ini melatih area otak yang bertanggung jawab untuk fungsi eksekutif: fokus, perencanaan, dan multitasking. Mereka cenderung lebih baik dalam mengabaikan distraksi dan beralih antar tugas.
2. Keterampilan Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Karena mereka terbiasa melihat bahwa satu benda bisa memiliki dua nama (misalnya: “air” dan “water”), pemikiran mereka menjadi lebih fleksibel. Mereka lebih mudah memahami konsep-konsep abstrak dan menemukan solusi kreatif untuk masalah.
3. Empati dan Kesadaran Sosial
Anak bilingual belajar sejak dini bahwa orang yang berbeda memiliki perspektif (dan bahasa) yang berbeda. Mereka harus peka terhadap lawan bicara untuk menentukan bahasa apa yang harus digunakan. Ini secara alami mengasah kepekaan sosial dan empati mereka—sebuah komponen kunci dari pendidikan karakter.
Pendekatan Charis Academy
Kami percaya cara terbaik belajar bahasa adalah melalui imersi (pencelupan) alami, bukan sekadar menghafal kamus. Di kelas-kelas awal kami, bahasa Inggris dan Indonesia digunakan secara bergantian dalam konteks nyata—saat bermain, bernyanyi, dan beraktivitas—sehingga anak menyerapnya tanpa merasa tertekan.
Kesimpulan: Jendela Kesempatan Emas
Meskipun tidak ada kata terlambat untuk belajar bahasa, masa kanak-kanak adalah “jendela emas” di mana pembelajaran bahasa terjadi paling mudah dan alami. Memberikan anak Anda karunia dua bahasa adalah investasi kognitif yang akan mereka gunakan seumur hidup.
Ingin mengetahui lebih lanjut tentang kurikulum bilingual kami? Kunjungi halaman Program Akademik kami.
Leave a Reply